Replace a goal of obedience with one of connection and trust instead.
Children are drawn to follow those to whom they are emotionally connected.
By parenting not for obedience but for relationship, kids are naturally inclined to follow your lead
- Kelly Bartlett -

Kemenangan Bersama Tuhan

03 August 2021, Me and My God

Bagaimana kabar Bapak/Ibu sekeluarga ?

Kami berharap keluarga Bapak/Ibu dalam keadaan yang sehat dan penuh sukacita.

 

Seperti yang kita ketahui saat ini, salah satu dampak pandemi covid-19 yang kian terasa adalah kedukaan akibat kematian karena terkena virus covid-19. Tidak dapat dipungkiri, virus covid-19 yang bermutasi berdampak kuat di seluruh lapisan generasi dan mengakibatkan tangis kedukaan muncul di sana-sini.

Kedukaan adalah suatu perasaan terluka yang sangat dalam karena kehilangan seseorang atau sesuatu hal yang dinilai berharga atau penting. Perasaan berduka ini menjadi suatu tanda bahwa kita begitu mengasihi orang atau hal tersebut, sehingga kehilangannya bagai kehilangan pegangan atau mutiara berharga dalam hidup. Selain itu, rasa duka yang muncul di hati juga memiliki beragam manifestasi lain, seperti insomnia, rasa sakit di dada, susah konsentrasi, linglung, bingung, kehilangan semangat, merasa lelah-capek-lemas, feel numb, dan lain-lain.

Oleh karena itulah, duka yang mendalam berkemungkinan besar berdampak pada kesehatan mental orang-orang yang ditinggalkan hingga dapat mengganggu yang bersangkutan dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara normal & maksimal.

 

Biasanya, seseorang yang berduka akan mengalami beberapa proses berikut ini (Kübler-Ross dalam Guttman, 2020):

  • Denial

Masih belum dapat menerima kenyataan akan kehilangan/meninggalnya seseorang yang berarti, sehingga masih berusaha memungkiri kenyataan yang ada dan masih menganggap bahwa kehilangan/kematian itu tidak nyata.

  • Anger

Sudah mulai dapat menerima kenyataan, namun masih dipenuhi marah & protes dalam diri yang ditandai dengan mempertanyakan banyak hal karena kehilangan/meninggalnya seseorang yang dikasihi.

  • Bargaining

Semakin dapat menerima kenyataan, sehingga mencoba untuk mengajukan penawaran-penawaran untuk memperoleh kemungkinan dapat menukar/menarik kembali kondisi kehilangan/kematian yang terjadi.

  • Depression

Adanya perasaan sedih, lonely, putus asa, tidak berdaya, tidak bersemangat, enggan/malas berkegiatan sehari–hari (makan, minum, mandi, bekerja, sekolah) biasanya terjadi pada tahap ini. Namun, pada tahap ini pula seseorang sudah menyadari penuh bahwa kehilangan/kematian itu sudah terjadi dan tidak mungkin dapat ditarik kembali.

  • Acceptance

Seseorang sudah menerima penuh kenyataan akan kehilangan/kematian yang terjadi dan mulai bergerak maju kembali untuk menjalani hidup.

 

Tidak semua orang mengalami seluruh proses kedukaan tersebut. Ada pula yang hanya mengalami atau melewati 1-3 proses kedukaan saja. Selain itu, proses kedukaan yang dialami juga tidak selalu terjadi secara urut sesuai proses kedukaan yang telah dipaparkan di atas. Namun, tak peduli seperti apa proses kedukaan yang Bapak/Ibu sekeluarga alami, yang pasti kedukaan adalah suatu hal yang wajar dialami saat kehilangan seseorang yang perannya berarti dalam hidup kita, baik itu adalah orang yang kita kasihi maupun yang mengasihi kita.

Oleh karena itu, sangat tidak apa-apa bahkan sangat perlu untuk tetap membiarkan diri sendiri memiliki waktu yang cukup untuk berduka atas kehilangan/kematian yang dialami tanpa perlu terlalu tenggelam di dalamnya dalam waktu yang berkepanjangan dan tanpa perlu sampai mengganggu laju hidup kita di masa depan.

 

Lantas, hal-hal sederhana apa yang dapat dilakukan untuk dapat melewati & berdamai dengan pengalaman kedukaan?

  • Accept & express emotion

Terima dan ekspresikan rasa duka yang sedang dirasakan. Jangan ingkari atau dihindari dengan sengaja mengalihkan hati pada hal-hal yang lain atau dengan melakukan/mengatakan hal yang berkebalikan dengan yang sedang dirasakan dan dialami. Untuk mengekspresikan emosi dalam hati, Bapak/Ibu sekeluarga dapat memilih cara yang paling sesuai dengan diri masing-masing, selama cara yang dipilih adalah cara yang aman dan sehat bagi diri sendiri dan orang lain.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara melukis, journaling/writing, mengambil waktu sendiri di dalam kamar, menonton, olahraga, menyanyi, menari, bercerita, dan lain-lain. Namun yang penting adalah bila sewaktu-waktu ketika di tengah melakukan kegiatan tersebut hati terasa sangat sedih atau sakit, maka ijinkan diri Bapak/Ibu sekeluarga untuk berhenti sejenak menangis sejadi-jadinya hingga hati terasa lega.

  • Social support

Temukan komunitas yang sehat, yang mau menerima, suportif & dapat memberi ruang bagi Bapak/Ibu sekeluarga untuk sharing tentang kedukaan yang dialami, sekaligus mendapat dukungan dan doa dari mereka. Komunitas yang sehat ini bisa merupakan sanak saudara terdekat, sahabat, komunitas kecil gereja dan lainnya. Bahkan, sesama anggota keluarga inti juga perlu untuk saling mendukung dalam melewati masa kedukaan yang dijalani, baik melalui doa bersama, makan bersama, saling bergandengan tangan atau berpelukan atau saling memberikan kata-kata penghiburan dan lain-lain.

  • Devote closer to God

Tetap berpegang teguh dalam iman percaya kepada Tuhan Yesus bahwa Tuhan itu baik, sehingga Dia tidak mungkin melakukan atau mengijinkan sesuatu hal yang buruk terjadi atas kita karena hal itu bertentangan dengan sifatNya yang selalu baik. Manusia seringkali gagal melihat maksud baikNya karena manusia cenderung melihat & menilai segala yang terjadi dari kacamata baik atau buruknya diri sendiri, bukan dari kacamataNya.

Oleh karena itu, selalu carilah, datanglah dan mendekatlah pada Tuhan dalam doa dan dengan merenungkan, beriman & menghidupi FirmanNya, maka dengan demikian kita akan semakin mampu memahami sudut pandang & maksudNya yang baik dalam segala hal. Seperti ada tertulis di Yeremia 33:3, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui”.

  • Continue the legacy

Temukan dan catat hal-hal baik apa saja yang Bapak/Ibu sekeluarga pelajari dan dapatkan dari seseorang yang telah “pergi” terlebih dahulu meninggalkan Bapak/Ibu sekeluarga ke Surga. Lalu, lakukan, hidupi, lanjutkanlah hal-hal baik tersebut dalam keseharian, sambil menjalani kegiatan Bapak/Ibu sekeluarga sendiri. Maka dengan demikian, Bapak/Ibu sekeluarga tidak hanya akan sekedar kembali terdorong untuk bergerak menjalani hidup sehari-hari, namun juga memberi ruang bagi orang terkasih yang telah “pergi” untuk tetap hidup melalui teladan hidup yang Bapak/Ibu sekeluarga ikuti & jalani dari “warisan kehidupan” beliau sehari-hari.

 

Untuk bisa berdamai dan melewati kedukaan memang dibutuhkan proses. Semua yang rela menjalani proses pasti akan mendapatkan progress. Hingga pada akhirnya, pengalaman kedukaan tidak lagi membuat diri merasa di-press & stress. Justru pada akhirnya dapat memberi suatu pembelajaran tentang pengenalan akan Tuhan yang lebih fresh.            

Namun, hal yang paling menenangkan hati yang perlu diingat sekalipun ditinggal pergi oleh orang terkasih adalah penyertaan dan kasih setia Tuhan yang akan selalu ada dan tiada pernah berhenti bagi siapapun di segala musim. Sekalipun orang terkasih yang menjadi pegangan hidup secara kasat mata telah “pergi”, bukan berarti lantas kasih setiaNya ikut terhenti. Justru, Pemegang Hidup kita yang utama yaitu Tuhan akan jadi pegangan hidup yang tidak pernah sedetikpun pergi.

Kasih setiaNya itu selalu ada turun-temurun sekalipun keluarga kita pasti satu per satu akan gugur. “Sebab TUHAN ITU BAIK, KASIH SETIA-NYA UNTUK SELAMA-LAMANYA, dan KESETIAAN-NYA tetap TURUN-TEMURUN” (Mazmur 100:5). Semoga, adanya janji Tuhan yang kekal ini membuat kedukaan tak lagi menimbulkan ketakutan dan cemas hati yang menguasai & memonopoli diri akan hidup yang akan dijalani nanti.

 

Dear all who have loss…

I’m very sorry for your loss…

Take your time to grieve…

May you surrounded with God’s peace,

Your loved ones (still) live,

Cause you are their legacy

So smile again & keep moving,

It’s time to turn the shift,

It’s your time to fullfil the legacy,

Don’t drown in grieve,

Don’t let it torn their gift,

Let they live,

Through you as their legacy…

 

~ Poem by @meli_unique ~

 

PUSTAKA ACUAN:

Jennifer Guttman. (2020). Understanding the stages of grief and facing tragic news. Diunduh 30 Juli 2021, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/sustainable-life-satisfaction/202004/understanding-the-stages-grief-and-facing-tragic-news

 

(Students Support Service, Agustus 2021)