Pendekatan Belajar & Mengajar



Berbagai macam pendekatan digunakan oleh guru untuk memastikan pembelajaran yang efektif, bermakna, dan memastikan siswa memahami konsep. Kami mengintegrasikan kebenaran Alkitab, membangun karakter, serta menggali kemampuan, keterampilan, dan gaya belajar masing-masing individu.


Beberapa pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek kolaboratif dan pemecahan masalah (problem solving), e-learning dengan pemahaman bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak (digital citizenship), pembelajaran reflektif dengan pertanyaan tingkat tinggi yang berfokus pada pembelajaran mendalam (deep learning), atau metode ilmiah yang memicu siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi inovatif.

Kurikulum

Kami, di MSCS, memandang kurikulum sebagai totalitas pengalaman siswa yang terjadi dalam proses pendidikan. Kurikulum memiliki makna holistik yang mencakup tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga hubungan antar mata pelajaran, metode pengajaran, dan semua aspek persekolahan yang mendefinisikan pengalaman pembelajar. Desain kurikulum juga diturunkan secara unik dari visi pendidikan sekolah. Ini menekankan fakta bahwa kualifikasi (nilai/ijazah) hanyalah bagian dari kurikulum. Hal inilah yang membuat setiap sekolah menjadi unik.

Pengalaman Belajar yang Lebih Luas

Merencanakan kurikulum sekolah dalam hal mata pelajaran dan kualifikasi hanyalah sebagian dari proses yang ada. Kurikulum yang dipraktikkan memberikan pengalaman belajar yang lebih dari sekadar gabungan kualifikasi, mata pelajaran, dan aktivitas yang terlihat dalam jadwal sekolah. Hal ini dikarenakan perhatian yang cermat dalam desain dan implementasi kurikulum diberikan pada pembelajaran di dalam, di seluruh, dan di antara mata pelajaran serta aktivitas tersebut. Seluruh guru dan staf sekolah mendukung pengembangan atribut pembelajar serta kualitas lainnya yang diidentifikasi dalam visi MSCS. Keluasan, keseimbangan, dan koherensi dibangun berdasarkan rancangan yang matang. Visi dan tujuan sekolah mencakup hasil pencapaian pribadi dan sosial, selain dari pencapaian akademik.

Pembelajaran tidak dimulai atau berakhir di dalam ruang kelas, melainkan meresap ke dalam lingkungan sekolah dan komunitas yang lebih luas. Apa yang sebenarnya dialami oleh siswa kami mungkin tidak sama dengan tujuan tertulis dari kurikulum—hal tersebut merupakan konsekuensi dari jaringan kompleks bagian-bagian yang saling bergantung termasuk: visi dan nilai-nilai sekolah kami, kualitas pengajaran, motivasi dan pengetahuan awal siswa, kepemimpinan, lingkungan, dan budaya sekolah; pemetaan kurikulum MSCS dan kurikulum mata pelajaran; praktik penilaian dan ekspektasi; serta struktur dan operasional internal kami. Oleh karena itu, pengalaman kurikulum yang dirasakan ini tentu saja bersifat unik dan hanya ada di sekolah kami.

Implementasi

Di MSCS, kami telah memetakan kompetensi Cambridge terhadap standar kurikulum nasional terbaru untuk penguasaan konten & keterampilan, dan menyelaraskannya dengan visi sekolah. Hal ini, dikombinasikan dengan berbagai acara, pertemanan, dan hubungan kasih antar guru, membuat pembelajaran di MSCS berbeda dan unik. Rumusan tersebut diterjemahkan ke dalam desain proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas yang mengajarkan dan memfasilitasi siswa untuk takut akan Tuhan; tumbuh secara sehat dalam segala aspek fisik, mental, kognitif, & spiritual; menemukan tujuan hidup mereka seperti yang Tuhan kehendaki; dan akhirnya menawarkan solusi bagi tantangan dunia, baik yang mendesak maupun yang akan datang.

Ini berarti, sebagai contoh, ketika seorang siswa mempelajari sesi tentang Alkitab, Karakter, atau waktu diskusi Teen-talk, mereka sedang dalam proses pembangunan spiritual dan mental; mengubah perspektif mereka menjadi sudut pandang Alkitabiah (Biblical worldview). Ketika mereka mempelajari Matematika atau Sains dasar maupun terapan, mereka sedang membangun penalaran logis dan Alkitabiah serta keterampilan berpikir kritis. Mereka juga membangun keterampilan komunikasi yang konstruktif dan membangun sebagai pemimpin ketika mereka belajar bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia, Inggris, atau Mandarin yang baik.

Pada mata pelajaran Global Perspectives dan penelitian PDP, siswa belajar untuk mengembangkan keterampilan daripada sekadar menguji ingatan akan pengetahuan tertentu. Ini dirancang untuk membantu siswa kami dengan beberapa alat dan pendekatan untuk terlibat dengan kompleksitas dunia modern, memahami pandangan orang lain, dan membantu mereka mengemukakan Perspektif Alkitabiah mereka sendiri serta menawarkan solusi. Mereka belajar untuk berpikir global dan bertindak lokal.

MSCS menanamkan nilai-nilai Alkitabiah dan atribut pembelajar melalui kegiatan akademik dan ekstrakurikulernya, sehingga membantu siswa dalam seluruh komunitas sekolah yang berasal dari berbagai latar belakang menjadi warga negara nasional dan internasional yang berwawasan luas, serta mempersiapkan mereka dengan sangat baik untuk berbagai peluang yang menanti di masa depan.